Minggu, 16 Mei 2010

MENANTI BIDADARI

Bulan Menaruh senyum manis malam ini kepada ku
Bintang pun tak mau kalah kedipkan sinar nya seolah merayu ku menemani malam ini
Tapi mengapa diri ini terasa hampa walau bintang dan bulan tebarkan pesonanya
Apakah aku salah mengharap bidadari ketika yang datang bulan dan bintang
Karena malam berganti malam bidadari ku tak kunjung datang
Sampai penantian ku di dera kejenuhan
Karena Harap tak berbalas jumpa oleh sosok diri mu di samping ku
Wahai bulan dan bintang bantu aku wujud kan bidadari ku hadir malam ini
Aku butuh selimut kasih dari dia penawar rasa rindu ini
Tapi entah mengapa bidadari ku tak kunjung datang
Apakah salah ku dalam langkah cinta ku merajut dengan bidadari
Ataukah bidadari ku menguji kesetian di ujung penantianku

Senin, 10 Mei 2010

Satu kan Aku dan Dia

Selepas Angin mendera Tubuh sejuk kan hati sejenak
Dan pikiran ini tak tahu selalu mengingat kisah di balik
semua yang terjadi di antara kita, semakin ku melupakan mu terasa semakin berat aku melepas mu
Oh Tuhan....
Sampai kapan rasa ini membelit dalam hati ku
Apakah ego ku mengharap kasih dia
Ataukah Hati ku tak bisa lepas dari belenggu cinta dia....
Kalau benar itu ada nya....
Hanya harap ku menanti takdir Mu menyatukan Aku dan Dia
Seperti layaknya Adam Dan Hawa Kau pisah kan Namun Takdir Mu Kau satu kan kembali dalam belaian cinta di antara nya...
Karena di antara Aku dan dia masih tersirat benang cinta namun Waktu dan takdir Mu belum menyatukan kita kembali......
Andai kan waktu dan takdir menyatukan kan ku sulam kembali benang cinta merajut kasih yang indah di antara kita..........

Oleh: Ameng/Asep Rosidi cirebon, 10 mei 2010

Rabu, 14 April 2010

Senandung Kata Maaf

Senandung Kata Maaf
Oleh : Asep Rosidi

Berulang hanya sekedar mengulang rangkaian kata
Berucap dengan perasaan haru mengalir
Akankah maaf terucap menjawab
Ketika kesalahan itu terbuat

Aku hanya seseorang yang tak luput dari dosa
Mengharap maaf dari sebuah hilaf ku perbuat

Mengalir kata maaf bukan sekedar lisan terucap teruntai
Mengharap sebuah keikhlasan terwujud

Seiring hati mengiris sedih menjalani senandung maaf ini
Karena beban ini tak sanggup ku bawa hingga akhir hayat
Hanya pinta ku…”Maafkan Aku atas segala dosa Ku”....

Rabu, 31 Maret 2010

Penggalan Kisah Dia

Oleh : Asep Rosidi / Ameng


Dia berkata manis di hadapan ku
Dengan sebilah kata yang membuatku Percaya segala perkataannya

Namun di balik semua itu dia berkata lain
Tentang aku terhadap orang lain

Apakah salah ku membuat dia berbuat itu..??
Apakah ada yang salah tentang diri ku
Ataukah tabiad dia yang kurang baik

Ataukah ini sandiwara hidup
Dari sebuah pagelaran kisah kehidupan yang Memaksa setiap orang menelan
Musang berbulu domba dalam kisah nya

Dan dia seolah-olah tak menyadari
Kesalahan yang di perbuat
Walau dalam perputaran waktu menjawab
Atas segala perbuatannya

Ruang Kamar

Oleh : Asep Rosidi / Ameng


Terhimpit di sela ruang kamar
Hanya berteman sebatang rokok
Dan secangkir teh manis
Bergerak raga namun hampa terasa jiwa ini
Tanpa lembaran kertas penukar bahagia

Hanya lamunan melayang
Membayangkan suasana indah, mewah
Dan sedikit teringat kampung halaman
Akan keakraban teman-teman
Dan suasana cerianya keluarga
Bertahan terus bertahan
Namun batin ini tersiksa
Lontaran pertanyaan hidup
Menunggu jawaban langkah hari-hari ku

Sementara aku hanya terdiam
Karena kesendirian ku
Tanpa kebahagiaan di sekeliling

Maafkan aku wahai pikiran yang ada
Dalam raga ku, karena aku tak bisa Memberimu kemana layaknya kau
Berpikir dan melamun dalam suasana
Nyata adanya

Selasa, 01 Desember 2009

Bidadari Setengah Cerita

Oleh : Asep rosidi / Ameng


Ku bakukan sebuah kisah tentang cerita menggapai rasa untuk sebuah cita
Ku ingat aku tak berkata apa pun untuk dia tentang aku,
Betapa tak ingin ku mengupas masa lalu di balik masa depan ku mulai mengulas
Sejenak perasaan ku mulai melambai sayap untuk dia
Berkisah romantis tanpa masa lalu mengusik
Sungguh dia setengah bidadari untuk sebuah kisah ku
Dia melontar kata seiring irama kisah ini berjalan
Dia aroma penghias cerita
aku berharap bidadari ku menyertai aku di kala mana aku berada
Takala saat ini hujan mengguyur di daratan bumi menyertai dingin membawa aroma,
Aku ingin jumpa diri mu walau kau setengah bidadari seperempat hayal ku

Kamis, 12 November 2009

Aku menangis di balik rindu mu

Oleh: Ameng / Asep rosidi



Waktu itu aku berjalan di sebuah persimpangan hati tanpa seorang kekasih, mencari sebuah butiran cinta seorang wanita pendamping langkah hari-hari ku. Tak kunjung datang rasa kesal mengeluh hati ini namun keyakinan ku membawa semangat dalam pencariaan cinta ku, perlahan pencariaan cinta ku mulai menemukan titik terang kala senyum seorang gadis membawa ku dalam sebuah perkenalan di antara kita. Gadis itu bernama Saira, gadis yang membuat jantung aku bergetak lebih kencang. Seorang gadis sederhana tanpa kemewahaan dunia menghiasi tubuhnya, ”mungkin kah ini cinta yang aku cari ?’’ ujar kata ku dalam hati. Bergulirnya waktu membawa aku mengenalnya lebih dekat sedekat getaran perasaan ku pada dirinya, kerap perjumpaan di antara kita membawa canda,tawa, dan kasih sayang turut serta menyelimuti. Tak ingin cinta ku di rebut orang dalam selah waktu yang tepat aku memberanikan diri mengutarakan sebaris kata cinta kepada nya walau perasaan serta sedikit kucuran keringat membasahi dahi kuketika mengutarakan nya. Namun tak sia-sia segala pengorbanan ku ketika Saira menjawab perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan. Momen itu tak bisa ku lewatkan begitu saja, aku mengajak Saira menikmati pemandangan malam di kala bulan terang serta gemerlap bintang di sekelilingnya di sebuah pantai. Mungkin rasa bahagia di antara kita melupakan bergulirnya waktu begitu cepat tak terasa mentari pagi beranjak dari peraduaannya membias sinar terang menyambut pagi ini, aku dan Saira pulang membawa segumpal rasa bahagia di hati masing-masing. Tak ubah nya orang di mabuk cinta, sehari tak bertemu hati terasa piluh dan hari-hari di antara kita kerap selalu bersama. Suatu hari kebimbangan ku mulai muncul ketika Saira mulai menjaga jarak di antara kita, mula nya aku memaklumikeputusan Saira dengan alasan sebuah kesibukan walau Saira masih menyempatkan dua kali pertemuaan dalam seminggu di antara kita, namun perlahan hari demi hari perjumpaan aku dan Saira tak kunjung datang, hal ini membuat aku mencari keberadaan nya.

***


Di sebuah persimpangan lain ketika Saira yang sibuk melawan sebuah penyakit yang di derita nya memaksa Saira pergi ke sebuah kota dengan ibu tercintanya. Aku yang sibuk mencari keberadaan Saira dan beberapa kali hanya menemukan rumah Saira kosong tanpa penghuni, suatu ketika aku mencoba kembali ke rumah Saira saat aku memencet bel rumah Saira tiba-tiba seorang ibu menghampiri ku dan barkata…”Ade.kekasih neng Saira ?...
Ya…betul aku kekasihnya ada gerangan apa ibu mempertanyakan itu?
(seorang ibu itu menyodorkan sepucuk kertas sambil berkata kembali)
“ ini alamat neng Saira yang baru, di titipkan ke ibu buat Ade sebelum
dia dan ibunya meningggalkan rumah ini?......


Aku pun mengambil sepucuk kertas alamat itu dan mengucap terimah kasih. Saat aku mendapatkan alamat Saira saat itu hanya terbesir di benak pikiran ku secepat nya menemukan keberadaan nya dan melepas rindu hadir Saira di depan ku. Sepanjang perjalanan hanya terlintas wajah wajah Saira yang ku rindukan, setelah sampai nya di sebuah rumah tepat alamat yang di berikan. Aku bergegas mengetuk pintu dan mengucapkan salam, alangkah bahagia alamat yang ku cari ternyata benar ketika yang membuka pintu ibu dari Saira dan tak lupa jabat sungkem ku pada ibu Saira. Setelah aku duduk tak sabar aku mempertanyakan kepada ibu keberadaan Saira , tapi aku bingung ketika raut sedih terlintas di wajah ibu Saira.
“Emang ada apa dengan Saira bu?....
(mungkin rasa sedih mendalam yang membuat ibu tak sanggup bercerita dan dia mengambil sepucuk surat kemudian memberikan kepada ku, dan aku perlahan membuka dan membaca isi surat itu.
“Untuk kekasih ku maafkan aku yang pergi begitu saja dari mu, aku tau kau amat selalu mencintaiku tapi maafkan aku sekali lagi tidak memberitahukan keberadaan penyakit yang di derita ku, aku tak mau kau ikut sedih atas penderitaan ku ,…karena rasa cinta ku kepada mu yang tak ingin menyusahkan mu,..Maafkan aku untuk terakhir kali jika surat ini selesai kau baca kau baru mengetahui bahwa aku telah pergi jauh meninggalkan mu untuk selama-lamanya dan aku damai di alam sana..dari kekasih mu Saira yang selalu mencintai mu hingga akhir hidup ini.”
Ibu Saira pun menenagkan aku agar tabah dan kemudian menghantarkan ku untuk melihat makam Saira, di situlah rasa sedih dan rasa bersalah ku terucap yang tak sempat menemani Saira di sisa waktu hidup nya. Ibu Saira pun mengajak aku kembali ke rumah karena terlalu lama bersedih di depan makam Saira. Semenjak kejadiaan itu hari-hari ku hanya bisa menangis sedih di balik rindu Saira yang pernah mengisi kehidupan ku dan aku pun kini merasa hidup ku terbunuh sepi serta kesendirian yang selalu menjerat dan membelenggu.

***

Selesai

Kamis, 29 Oktober 2009

Kisah Cinta

Masih teringat saat jutaan detik kemarin
Engkau mengucap kasih dan membelaiku
Dengan kelembutan
Tak sedikit pun engkau melupakanku
Dan mengisi hari-hari ku..

Mengapa engkau kini berubah
Dalam hitungan detik......
Menghindar dan menghilang dari cinta ku
Apakah engkau berpaling mencari cinta lain
Melupakan ku dalam sekejap mata....

Ada apa dengan cintaku....
Engkau kekasih..??
Ataukah cinta ku mebuat kesengsaraan dalam jiwamu.......

Jika engkau pergi,...??
Ku mohon sebilah kata-kata mu menjawab seiring kepergian mu.......................

Rasa Syukur

Saat ini aku masih terdiam
Di kesendirian tanpa cinta dan rejeki menopang
Di mana akan ku cari selembar rejeki
Dan kisah cinta............
Ku berdoa dengan ikhlas membidik kasih Tuhan
Berikan sedikit belaian Nya
Keadaan ini tak membuat aku menyerah
Karena aku tahu Tuhan kan bersama ku
Dalam kediaman ku dan setiap langkah
Pikiran ku........
Terucap rasa syukur mengiringi hari-hari ku
Walau keadaan seperti ini..
Karena aku masih bisa menghirup udara segar
Di bumi tercinta ini walau Tuhan tak memberikan
Sesuatu yang lebih untuk kehidupan ku...
Terima kasih........Tuhan...


Cirebon,28 oct 2009