Santai Sambil Nonton Di sini

Loading...

Sabtu, 20 Juni 2009

MAWARISME

- dedicated 4 bola bekel!

Siapa ini dari belakang tiba-tiba memelukku?
tubuhnya gerimis dan matanya yang seperti api dari celah jendela
lalu kuda-kudanya memanahi rumput-rumput di telingaku

saat itu kabut membagikan jaket hujan pada pepohonan
dan matahari dengan lidahnya yang memanjang
merampasi remang-remang di segala tekukan

bayang segala pepohonan jatuh ke dalam kamar
sebagian rantingnya melata menyayati ranjang

kubiarkan saja kamu terus memelukku dari belakang
sementara kudamu yang berpacu di telingaku
mengangkut beronggok kayu bagi kebun api matamu
bahan bakar bagi tatapanmu yang selalu membakarku
agar aku turun ke jalan dan menghanguskan kota dalam waktu sehari
ruko-ruko menggelepar, kulkas dan permen menikah di atas marka jalan

aku tak mau menatap matamu lagi !!
aku takut jadi pemberani lagi !!
bukan karena tak mampu melempar batu ke arah patung dan airmancurnya itu
tapi karena lelah melawan yang kadang tak terduga adalah tetanggaku sendiri

Biarkan aku mencintai gerimismu saja
karena itu pun tetap tak semudah seperti di dalam film biru
sekedar memindahkanmu dari sofa ke atas rak, dengan ikatan tangan
menarik kayu , deritnya yang kering bergeratakan
mencari jalan tembus dari anak tangga ke atap rumah
tak sampai pada genting, musnah sudah

Ah, aku tetap ingin mencintai gerimismu saja
dengan mengerat lengan, menyatukan tetesan darah kita
seperti dalam film-film mafia Itali dan udara sempat tegang karena kekanakanakan kita ini
Kemudian kita berduaan mengenakan sepatu, mencangking ransel
berjalan mengubah arah sunyi
….melewati apa saja! Sampai batas tak mungkin yang bisa kita lalui. Kau percikan
api dari matamu di sepanjang jalan yang kita susuri
menyiramankan cahaya dengan selang kepada mawar
kemudian mawar membakar kelahirannya sendiri
mengubah dirinya, seperti mawar tapi bukan mawar
lalu kau beri nama baru padanya

: mawarisme!

Setelahnya—angin semriwing—waktu mengkeret—mengembalikan
wujud mata perempuanmu yang tomboy
mempersilahkan aku untuk memandang matamu lagi
yang memang bagai bola bekel itu
dan bola itu sekarang menyundul lagi sajak-sajakku, langsung dari depan
menggetarkan gawang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar